My Journal

Sudah Punya Anak Belum?

“Sudah punya anak belum?” Sebuah pertanyaan lazim yang kerap dilontarkan pada pasangan Suami Istri. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan tersebut. Namun, akan menjadi ‘nggak banget’ ketika dijawab “Belum”, si Penanya justru melanjutkan memberondong lagi dengan pertanyaan,

“Kenapa belum? Nunda?”
“Ihhh.. Nggak pinter deh bikinnya..”
“Lah, siapa yang bermasalah?”
“Udah Promil belum?”

Dan pertanyaan semisalnya. Lebih nggak banget, jika tiba-tiba memberi beribu wejangan, menyarankan berobat kesana-kemari, menceritakan teman-teman yang berhasil program hamil dengan ramuan ini itu, dan semisalnya.

Stop!

Niatnya baik, ingin membantu. Tapi, cara terbaik untuk membantu teman yang sedang menunggu buah hati hanyalah “Diam”. Hingga teman tersebut meminta pendapat, curhat, atau nasihat tentang upaya memperoleh keturunan.

Bukan tidak menghargai orang yang memberi wejangan seputar program hamil, atau ia yang begitu perhatian hingga menanyakan siapa yang bermasalah?

Namun, ini menyangkut kondisi psikologis mereka yang qadarallah lama belum diberi anak. Tau nggak rasanya gimana?

Nyesek!

Gimana lagi, wong punya anak nggak semudah mendapat Timun Emas? Anak itu hak prerogatif Allah. Allah yang memiliki wewenang penuh untuk memberi anak atau tidak? Allah Maha Menghendaki. Secanggih apapun teknologi untuk membuat anak (Bayi Tabung), sudah berbentuk embrio yang ditanam di dalam rahim, jika Allah tidak menghendaki, yowes, gagal. Ratusan juta melayang. Mau gimana? Diulang lagi? Sampai seribu kali bayi tabung, jika memang Allah tidak menghendaki, ya tidak akan berhasil.

Coba bayangkan deh, jika kalian, yang sering nanya dan rajin memberi wejangan ini itu berada dalam posisi tersebut?

Berat. Karena, hanya Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, dan apa hikmah tersembunyi di balik tertundanya seorang hamba memiliki anak.

Mereka yang lama menikah belum berketurunan, harus berperang melawan konflik bathin. Konflik internal dengan dirinya sendiri. Merasa belum menjadi wanita yang sempurna, minder dengan Suami, merasa bersalah pada Suami, belum lagi jika ternyata ia satu-satunya yang belum hamil di tengah keluarga intinya yang tiap tahun seperti giliran hamil dan melahirkan, sedangkan ia harus menjerit perih ketika periode bulanannya datang tepat waktu atau bahkan amburadul.

Ditambah lagi, konflik menghadapi orang tua dan Mertua yang sering bertanya tentang calon cucunya. Cibiran keluarga, teman, dan tetangga yang membandingkan dengan si A dan B yang mudah punya anak, dll.

Lebih-lebih, jika ternyata Suaminya yang bermasalah namun enggan untuk mencari pengobatan. Atau, istrinya dituduh mandul padahal disentuh dokter kandungan pun belum? Sudah diancam akan dipoligami atau lebih menyakitkan, diceraikan.

Coba deh, bayangin perasaan di posisi tersebut? Kira-kira, sanggup engga?

Lalu, tiba-tiba kita datang bertanya hal yang sangat sensitif ini. Ketika ditanya “Sudah punya anak belum..” kondisi hati yang semula riang menjadi cemas. Khawatir duluan dengan respon kita jika dijawab “Belum”. Eh, ternyata, kita benar-benar memberi respon yang dikhawatirkan selama ini. “Banyak nanya, banyak omong, dan sok bijak”. Meski mereka nampak antusias mendengarnya, tapi pahamkah, hati mereka mendung? Ingin rasanya cepat-cepat hengkang dari topik soal anak. Karena, mereka ingin lebih mensyukuri nikmat Allah yang lain daripada diingatkan terus menerus tentang nikmat yang belum diberi.

Jadi, saran saya, jika berbasa-basi dengan orang lain, dan sampai pada topik “Udah punya anak belum?”, Kemudian dijawab “Belum”, sikap termanis kita adalah berkata, “Oh.. Nggak papa.. In syaa Allah diberi yang terbaik yaa?” Sambil senyum tulus. Lalu doakan mereka diam-diam agar Allah beri mereka karunia keturunan yang sholih dan sholihah. Sebab, mendoakan tanpa sepengetahuan orang lain lebih mustajab. Bahkan, di-aamiin-kan oleh Malaikat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Sesungguhnya doa seorang Muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim, no. 2733)

Buibu yang dirahmati Allah…

Semoga tulisan ini bisa menyentuh nurani kita ya? Membuat kita lebih memahami kondisi kejiwaan orang lain, terlebih sebagai sesama wanita. Jangan sampai, lisan kita yang satu ini, menjadi beban bagi orang lain tanpa disadari.

Ingin saya sampaikan, bahwa Allah menguji seorang hamba dengan tertundanya buah hati, tentu memiliki kebaikan yang banyak yang kita tidak ketahui. Mereka mampu melaluinya, bagaimanapun jalan terjal di hadapannya.

Kita tidak perlu tahu, apakah mereka sudah program hamil? Siapa yang bermasalah? Dan tidak perlu pula memberi tips ini itu tanpa diminta. Percayalah, ketika menyadari belum kunjung hamil padahal hitungan tahun telah berlalu, mereka pasti akan mencari tahu penyebabnya. Mereka berusaha dalam senyap tanpa perlu woro-woro ke khalayak apa saja yang sudah diperjuangkan demi bisa menimang buah hati.

Jika mereka tidak pernah cerita apapun soal kondisinya yang tak kunjung hamil, padahal sahabat dekat sekalipun, artinya, kita bukan orang yang tepat baginya untuk menjadi teman bicara. Ya karena, secara psikologis, tidak akan benar-benar memahami jika tidak pernah berada dalam posisi yang sama. Terlebih, jika kita bi’idznillah mudah hamil, tentu, kita tidak akan pernah mengerti dengan pasti apa yang mereka rasakan. Tanggapan kita, tidak akan bertaut di hatinya. Mereka hanya butuh bercerita dengan orang yang tepat agar hati tidak lelah.

Mereka yang belum dikaruniai buah hati, hanya ingin disikapi dengan biasa saja. Dengan kita banyak memberi tips ini itu tanpa diminta, atau beribu nasihat kesabaran untuk mereka tanpa permisi, hanya akan membuat mereka merasa dikasihani. Membuat rasa percaya dirinya luruh, bersamaan dengan nada-nada kasihan berbalut ‘perhatian’.

Jika benar perhatian, diamlah.. doakanlah.. Hingga mereka berkata, “Hei, aku udah lama nikah kok belum hamil ya? Ada saran untukku?”

Jika lampu hijau menyala, berikanlah nasihat dan saran terbaik kita untuknya. Sambutlah dengan suka cita. Semoga melalui wasilah nasihat atau saran kita, Allah beri jalan bagi mereka untuk memiliki anak!

Bisa Buibu?

In syaa Allah kita bisa yah? 😊

Sulistiyoningtyas,

Yogyakarta, 17 Juli 2019

5 thoughts on “Sudah Punya Anak Belum?”

  1. subhannAllooh langsung mewek bacanya mbak. btw, jurnal umroh keduanya blm y? dtggu loh. dan tips mencari biro umroh yang berkualitas sesuai manhaj blm y mbak? dtggu postingan lanjutannya ya mbak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.